Jumat, 08 April 2022

pemahaman 3 prinsip dilema etika

Tiga prinsip penangan dilema etika

Menurut prof dan pakar etika Brush and kinder yg tertuang dlm bukunya good people make up Twice choice. Kinder mengatakan bahwa tanpa kita sadari kita sudah sangat mengenal atau bahkan sdh menjalani ke3 prinsip yg seringkali digunakan sampai kita tidak perlu lagi melakukannya. mungkin anda pernah merasakan:
1. saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang (berfikir berbasis hasil akhir/end-based thinking

2. ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan (berfikir berbasis peraturan/rulee-based thinking)

3. memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda? (berfikir berbasis peduli/care-based thinking.

prinsip moral 

1. prinsip moral berfikir hal akhir berfokus untuk dapat mencapai kebaikan jumlah orang banyak yang . proses berfikir ini berpijak pada utilitarianism (mengerjakan apa yang dapat menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak)
pemikiran berfikir ini senantiasa mengukur atau menguji konsekuensi dari suatu keputusan dengan memperkirakan hasil Yang akan diharapkan yg bisa memberikan kebahagiaan terbaik untuk orang terbanyak. prinsip moral berpatokan pd institusi bukan Pd Kep individu. pd perkembangannya prinsip ini mendapat kritikan di kalangan ahli filsafat salah satunya yg mengatakan "manusia pada dasarnya tidak bisa memprediksi semua akibat konsekuensi dari setiap keputusan atau tindakan-tindakannya untuk melihat semua konsekuensi dari perilaku seorang individu saja belum tentu bisa, lebih-lebih konsekuensi dari tindakan sebuah masyarakat".
contoh: pd saat manusia membangun reaktor nuklir. apakah mereka memperkirakan bagaimana sebaiknya pembuangan limbah dr pabrik2 reaktor nuklir tsb. 

2. Berfikir berbasis peraturan
Bg pr ahli filsafat prinsip ini sering disebut prinsip deontologis yg berasal dari bahasa Yunani 'deon' yang berarti 'tugas' atau 'kewajiban'. sehingga prinsip dilemaetika ini bukan berpusat pada konsekuensi atau hasil akhir namun berpusat pd apa tugas kita ap kewajiban yg patut kita lakukan. seseorang akan bertindak sesuai peraturan yang berlaku dan orang tersebut mengharapkan orang lain bertindak mengikuti dirinya.
kritik terhadap prinsip berfikir berbasis peraturan (rule-based thinking)
"pada penerapannya prinsip ini dianggap berlaku terlalu kaku dan mengabaikan keberagaman individual manusia. bahwa mereka tidak terlalu memperdulikan hasil yang akan didapat namun lebih fokus kepada prinsip atau aturan dasar yang diyakini, selalu berpatokan pada 'sudah menjadi tugas atau kewajiban' ". Dengan demikian bisa jadi peraturan yang salah secara prinsip sehingga ketika seseorang sedang mengambil keputusan berdasarkan aturan dia sedang melakukan kesalahan ganda.
contoh dr kritik ini: bagaimana bila seorang anak diwajibkan atau telah berjanji KPD kedua orang tuanya untuk tetap berada dalam rumah dan dilarang keluar untuk sesuatu alasan apapun sewaktu orangtuanya pulang terlambat dari kerja. namun bgmn bl HR itu hjn deras dan anak tersebut melihat ayahnya yg br pulang kerja naik sepeda motor dan terjatuh dan terluka di depan jalanan rumahnya? Apakah anak tersebut tetap berada dalam rumah dan tidak memperdulikan ayahnya yg terluka di jalan tanpa ada yg membantu?

3. Berfikir berbasis Rasa Peduli (care-based thinking)
Prinsip ini dikenal sebagai aturan emas dan telah memainkan peran kunci dlm pembelajaran di hampir semua pengajaran budaya dan agama. Dan untuk selanjutnya prinsip ini memainkan peran kunci pd pendidikan etika. lebih penting lagi berfikir berbasis rasa peduli selain memberikan batasan-batasan pd tindakan kita namun jg mendukung agar diri kita memikirkan kepentingan orang lain. prinsip ini banyak melibatkan empati sesorang terhadap pihak lain seandainya saya di posisi dia apa yang harus saya lakukan.
kritik terhadap prinsip berfikir berbasis peduli
"prinsip ini terlalu sederhana untuk dianggap sebagai salah satu prinsip etika yang utama. Prinsip ini tidak memberikan pilihan khusus atau menunjang nilai-nilai kebajikan yang ideal. prinsip ini gagal memberikan contoh kebajikan, seandainya situasinya melibatkan kedua belah pihak yang sama2 melakukan tindakan yang kurang terpuji.
Contoh dr kritik ini: dua sahabat yang sama2 menyontek dites, salah satu ditanyakan guru apakah melihat sahabatnya menyontek, berfikir bahwa saya tidak akan mengadukan sahabat saya sehingga tidak berkata jujur karena beranggapan sahabatnya pun tidak akan mengadukan perbuatannya.
Demikianlah materi 3 prinsip atau penanganan dilema etika. semoga materi ini bermanfaat membantu saya untuk lebih memahami tiga prinsip tersebut dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Ketiga prinsip ini merupakan


Sabtu, 02 April 2022

Jurnal Refleksi 16

Aksi Nyata - Praktik Coaching
Pada Minggu ini kami mempelajari modul 2.3 Coaching. Pada modul ini kami belajar tentang konsep Coaching dan Praktik Coaching. Pada bagian modul ini juga kami melakukan aksi nyata praktik coaching. Selama Praktik berlangsung CGP sendiri mendapat ilmu dan pengalaman serta mampu menerapkannya dengan rekan sejawat.
Pada saat praktik berlangsung CCP merasa tertantang untuk mempelajari lebih dalam tentang coaching. CGP merasa bahwa pemahaman tentang coaching yang selama ini CGP ketahui ternyata jauh dari yang telah dipelajari. Jika sebelumnya pemahaman saya bahwa coaching adalah proses yang dilakukan oleh coach sebagai orang yang berpengalaman kepada coachee yaitu orang yang kurang berpengalaman. Namun setelah mempelajl
eri modul ini saya dapat belajar tentang coaching yang sebenarnya lebih kepada mengajak coachee untuk belajar bukan untuk mengajarinya.
Harapan saya setelah mempelajari modul ini saya dapat melakukan praktik coaching dengan baik dengan mengacu pada komunikasi yang memberdayakan sebagai penunjang dalam praktik coaching. Dengan menerapkan model TIRTA harapan saya juga dapat menerapkan praktik coaching di kelas untuk membantu murid menemukan jati dirinya dan melejitkan potensinya.

Demikian Refleksi saya
Sekian dan terimakasih...
Salam Hangat dan Bahagia

Sabtu, 26 Maret 2022

Jurnal Refleksi Minggu 15

Praktik Coaching
Coacing adalah proses diman coach membantu coachee mencapai tujuannya. Dalam proses ini antara coach dan coachee terjalin hubungan yang saling setara dan saling mempercayai. 
Pembelajaran yang saya dapatkan Minggu ini tentang praktik coaching. 

Selasa, 15 Maret 2022

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

Oleh: Ernawati, S. Pd
CGP AK 4 Kota Tual



Pembelajaran Sosial Emosional

    Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial emosional bertujuan untuk memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), membuat keputusan yang bertanggungjawab (pengambilan keputusan yang bertanggungjawab).

        Implementasi pembelajaran sosial emosional dapat dilakukan dengan empat cara: 
  1. mengajarkan kompetensi sosial emosional secara spesifik dan eksplisit.
  2. mengintegrasikan kompetensi sosial emosional dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid.
  3. mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid
  4.  mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.
Pembelajaran Sosial Emosional Berbasis Kesadaran Penuh (mindfulnenss) dalam Mewujudkan Kesejahteraan Hidup (Well-Being).

       Kesadaran penuh dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan hati. Dalam Mindfulnenss ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan. Dengan latihan berkesadaran penuh (Mindfulnenss) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contoh, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernapas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, mengelola emosi yang muncul, hingga dapat membuat pilihan/mengambil keputusan yang lebih responsif, bukan reaktif.
       Sedangkan Well-Being (kesejahteraan hidup) adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Pembelajaran sosial dan emosional berbasis Kesadaran penuh yang dilakukan secara terhubung, terkoordinasi, aktif, fokus dan eksplisit diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan hidup (Well-Being) ekosistem sekolah.

Pembelajaran Sosial Emosional dan Materi Lainnya.

        Pembelajaran sosial emosional erat hubungannya dengan peran guru dalam membuat keputusan melalui proses pertimbangan moral. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan ditengah masyarakat melalui murid-murid mereka. Dengan demikian guru patut mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ektrinsik) dan yang sifatnya psikis (intrinsik). Emosi adalah bagian utama dari lingkungan yang sifatnya psikis dan intrinsik yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya untuk guru. Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.
        Sebagai seorang pendidik tentunya harus mampu memiliki dan menunjukkan profil yang berpancasila. Profil pelajar Pancasila adalah karakter yang diharapkan muncul pada segenap murid di Indonesia. Untuk membangun dan menumbuhkan karakter tersebut setiap guru menanamkan nilai-nilai dan pola pikir sebagai panutan atau pamong. Nilai-nilai ini bisa berkembang jika seorang guru mengaktifkan otak luhurnya agar bisa berfikir strategis dan kreatif dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Jika semua warga sekolah ikut berpartisipasi dan mendukung perubahan budaya sekolah, maka dengan mudah untuk mewujudkan visi sekolah.

Sekian dan Terimakasih
Semoga bermanfaat...


Calon Guru Penggerak,
Ernawati, S.Pd 
CGP AK 4 Tual

Nilai Akademik Tidak Sama Dengan Nilai Hidup

Masyarakat modern terlalu terobsesi dengan angka. Seolah-olah nilai rapor adalah cermin dari kecerdasan sejati dan tiket menuju ...